Semangat Mengaji Santriwan-Santriwati Al Mubarok Kanoman, di Tengah Keterbatasan

thumbnail








Dusun Kanoman merupakan salah satu dusun yang terletak di desa Wolutengah kecamatan Kerek kabupaten Tuban. Dusun ini terletak di barat laut dari pusat pemerintahan desa Wolutengah, sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. Di balik dusun kanoman ini terdapat secerca harapan yang sangat besar. Harapan itu adalah dari anak-anak dusun yang akan membuat perubahan dan sejarah baru di dusun Kanoman khususnya.

Semangat gebrakan pertama mulai terlihat semenjak kehadiran orang tua Damauri (Mbah Tarsan) sejak tahun 1971 sampai sekarang hingga dilanjutkan kepada putranya. Bagaimana tidak, dahulu seperti yang diceritakan orang tua Damauri di dusun Kanoman ini warganya belum banyak yang menjalankan ajaran agama. Menurut cerita orang tua Damauri ketika Hari raya Idul Fitri tiba warga sekitar ketika diajak salaman malah lari. Selain itu dahulu jika ada hajatan dalam bulan puasa yang bisa membacakan doa hanya orang tua Damauri. Jadi ketika hajatan bulan puasa malam 29 maka hajatan akan berlangsung sampai shubuh.
Berkat perjuangan orang tua Damauri dan kebersamaan pemerintah desa, elemen masyarakat lainya selama bertahun-tahun warga Kanoman sekarang berangsur-angsur sadar untuk menjalankan ajaran agama. Salah satu bukti perjuangan orang tua Damauri itu adalah keberadaan Musholla di depan rumahnya, yang kini sudah menjadi TPQ Al Mubarok berdasarkan SK Menkumham yang ditetapkan pada tanggal 09 Januari 2016 di Jakarta. 

TPQ Al Mubarok Kanoman mempunyai letak yang sangat strategis untuk dijangkau dan tempat yang masih sederhana. Kesederhanaan bangunan gedung yang berukuran 7 x 4 m, tak membuat patah semangat santriwan-santriwati dalam mengaji. Fasilitas yang ada di TPQ ini tentunya masih kalah jauh sama dengan TPQ di perkotaan pada umumnya dan desa-desa di kecamatan Kerek lainya. Pembangunan TPQ Al Mubarok ini dilakukan secara bertahap, mulai dari dinding dan atapnya. Lantai terasnyapun hanya terbuat dari bambu yang di beri tikar dan karpet. Tentunya sangat menunggu uluran tangan dari saudara-saudara dermawan yang ingin memberikan bantuan baik moril maupun materiil.

Santriwan-santriwati TPQ Al Mubarok sekarang kurang lebih berjumlah 128 anak, akan tetapi ustad yang mengajar hanya 2 orang. Tentu hal itu sangat tidak sebanding dengan jumlah santri (murid). Ruangan TPQ selalu dipenuhi anak-anak dan tak jarang mereka harus berdesak desakan untuk dapat duduk mengaji bahkan kadang sampai ke halaman rumah Damauri. Setiap hari menjelang magrib orang tua santri berduyun-duyun mengantar anak-anaknya untuk mengaji, begitupun pulangnya mereka menunggu untuk menjemput. Melihat semangat anak-anak dusun Kanoman, hati penulis merasa bergetar ketika datang ke TPQ Al Mubarok. Semangat belajar yang patut ditiru dari santri-santrinya dan semangat perjuangan yang perlu ditiru dan didukung untuk pengasuh (ustadnya).

Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari dusun Kanoman dan TPQ Al Mubarok. Pertama, meskipun mereka (anak-anak masyarakat kanoman) hidup di sebuah dusun yang jauh dari hiruk pikuk kota akan tetapi semangat belajar mengaji masih ada dan menyala. Kedua, tentang arti sebuah perjuangan yang dilakukan oleh orang tua Damauri dan ustadnya (yusuf) dalam mengembangkan TPQ Al Mubarok dan menjadi obor penerang untuk masyarakat Kanoman dan sekitarnya.(mhrz)
                                          Suasana di teras selatan saat mengaji

                                          Tampak santriwati sedang mengaji di Teras depan

                                          Orang tua santri saat menjemput anak-anaknya
               Piala yang diraih santri TPQ Al Mubarok dalam ajang Lomba-lomba Islami tingkat Kecamatan

Pak Made Tegeh: Mengajar adalah Panggilan Jiwa

thumbnail







Sosok: Dr. I Made Tegeh, S.Pd ,M.Pd, ekspresi setelah wawancara di ruang jurusan Teknologi Pendidikan. (Selasa, 21/4/15).



I Made Tegeh lahir di Buleleng, 15 Agustus 1971, tepatnya di Dusun Kelod Kauh Desa Panji kecamatan Sukasada. Ia adalah seorang dosen dan Teknolog Pembelajaran di jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja Bali. Sekarang Ia sudah mempunyai keluarga dengan satu istri dan tiga anak. Berlatar belakang dari keluarga petani tidak menyurutkan niatnya untuk mewujudkan cita-citanya yaitu sebagai guru dan tenaga kesehatan. Ia menempuh pendidikan di SDN 1 Panji, kemudian melanjutkan ke SMPN 2 Singaraja dan SMAN 1 Singaraja. Kemudian setelah lulus dari SMA ia melanjutkan studi lagi di FKIP Unud D2 PGSD tamat tahun 1993, S1 Teknologi Pendidikan tamat tahun 2001. Ia melanjutkan studinya S2 Teknologi Pembelajaran dan S3 Teknologi Pembelajaran di Universitas Negeri Malang dan meraih gelar doktor pada tahun 2009.

Pak Tegeh panggilan akrabnya merupakan sosok yang mempunyai hobi bermain layang-layang dan sepakbola semasa kecil. Bermain tenis lapangan merupakan hobi saat ini. Sejak menjadi mahasiswa Ia aktif di berbagai organisasai mahasiswa diantaranya, HMJ, SENAT dan UKM Pramuka. Berbagai prestasi pernah diraihnya mulai dari mahasiswa dengan IPK terbaik. Setelah lulus S1, Ia mulai mengajar di jurusan Teknologi Pendidikan tepatnya pada tahun 2001. Dalam jurusan Teknologi Pendidikan sekarang, Ia mengampu mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan, Video Pembelajaran dan Sinematografi Pendidikan. Ia merupakan dosen yang sangat disenangi mahasiswanya, karena sikap dan cara mengajarnya yang menggunakan ilmu seni Teknologi Pendidikan. Maklum saja bapak tiga anak ini adalah produk asli Teknologi Pendidikan murni. 

Sebagai seorang dosen dan Teknolog Pembelajaran tentunnya mempunyai tugas yang berat yaitu memanusiakan manusia dan memecahkan masalah-masalah pendidikan. Hal itu merupakan tantangan tersendiri bagi bapak tiga anak ini. Ketika ditanya mengenai suka-dukanya menjadi dosen, ia menjawab “ Sukanya ya menghadapi anak-anak yang rajin, disiplin, cerdas mau berusaha keras, dukanya itu kadang-kadang menghadapi anak-anak yang tidak disiplin” . Tapi menurutnya menjadikan tantangan tersendiri ketika menghadapi anak-anak yang kurang disiplin itu. Ia selalu berusaha meluruskan mereka supaya sikap, perilaku, perkataannya  menjadi lebih baik.

“Mengajar adalah panggilan jiwa” ujarnya. Sejak kecil menjadi guru merupakan impian yang sangat besar. Dalam wawancara yang penulis laksanakan bersama narasumber ketika ditanya mengenai harapan bagi dunia pendidikan Ia mengungkapkan  ”Semoga dunia Pendidikan kedepanya semakin maju dengan berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni sehingga dapat berimbas pada kemajuan dunia pendidikan karena tanpa pendidikan tidak mungkin kita mengadakan perubahan kearah yang lebih bagus” pungkasnya.


(Mahrus)